Sebuah Amplop dan Keikhlasan Bekerja

Minggu siang kemarin, saya kembali dari Jambuluwuk Batu setelah sehari sebelumnya menghadiri rapat kerja PPTI UB. Sampai di kantor, rasa capek karena semalam tidak tidur membuat saya enggan segera pulang kerumah. Saya putuskan untuk makan bersama teman-teman kantor yang belum juga pulang dan merasa lapar.

Sekitar pukul 2 siang saya menuju WSS (Waroeng Steak and Shake) di daerah Soekarno Hatta Malang. Sepiring Hot Plate Cordon Blue favorit saya menjadi menu makan siang saya hari itu. Mata kantuk hilang seketika dengan menu makan spesial yang sebenarnya adalah menu makan favorit pacar saya juga.

Setelah kenyang, kami semua mengeluarkan uang untuk membayar yang dikoordinir teman saya. Saya keluarkan amplop yang kemarin diberikan saat acara rapat berlangsung, tahu lah isinya apa! Teman saya menerima lalu berkata “waduh ima ini uangnya masih diamplop saja!” aku hanya tersenyum tak menghiraukan.

Lalu teman saya memberikan kembali amplop itu, saya menerimanya, kemudian melipat-lipat amplop itu dan membuangnya di meja dekat dengan tisu kotor yang baru saja saya gunakan setelah makan. Lalu kami balik lagi ke kantor, parahnya saya malah ketiduran di sofa ruang tamu sampai sore, dan baru terbangun sekitar jam 4.

Saat mau pulang saya menuju meja kerja teman saya yang juga belum pulang, berniat meminta kembalian uang makan siang kepadanya. Anehnya teman saya bilang begini “Heh, tadi kan pakai uangku dulu, uangmu kan aku kembalikan!”

Aku bingung. Lalu dia berkata lagi “tadi kan amplopnya aku kembalikan ke kamu! Tadi bayar pakai uangku dulu!”

Aku nganga, nggak percaya! Jadi amplop yang aku lipat-lipat kecil tadi masih ada uangnya. Hahahahaha.

Lalu saya telepon WSS di Suhat tempat tdai aku makan, saya konfirmasi untuk minta tolong pegawainya saya mencari amplop putih, mereka bilang tidak menemukan, lalu meminta saya menelepon lagi seperempat jam kemudian. Saya menuruti, dan saat saya telepon lagi amplop itu juga belum ditemukan.

Ah, saya pasrah. Pikir saya hanya Rp 100.000 saja kok. Kalau ditemukan mungkin rejekinya mas-mas yang kerja disana, toh saya juga nggak yakin mas-mas yang kerja disana mau ngubrek-ngubrek sampah yang pasti isinya uda nggak karuan bentuknnya. Lalu saya putuskan untuk pulang.

Sesaat setelah mengisi bensin, telepon saya berdering, dari WSS Suhat, saya mengangkat dan masnya bilang uang saya ketemu. Alhamdulillah, saya akhirnya memutuskan tidak langsung pulang, putar balik ke Suhat dan kembali ke WSS. Sebelumnya saya mampir dulu ke toko kue, membeli beberapa kue dan melanjutkan ke WSS.

Sampai disana, dan sesaat setelah saya bilang “Mas, saya Ima yang tadi telepon menanyakan amplop!” masnya langsung menyampaikannya ke temannya yang lain, lalu seorang laki-laki berperawakan kurus tidak terlalu tinggi menggunakan kaos polo warna kuning khas warna WSS menemui saya.

Tangan kanannya mengulurkan sebuah sobekan kertas basah dan selembar uang seratus ribu di dalamnya. Amplop putih itu ternyata sudah basah dan hancur oleh air, sepertinya masnya sengaja telah mencuci amplop dan uang saya. Belum sempat saya mengucap terima kasih masnya malah bilang begini “maaf ya mbak uangnya jadi basah”

Ya Allah, mas! Ngapain malah minta maaf, harusnya saya yang minta maaf karena menambah pekerjaan anda untuk mencarikan sebuah amplop di tempat sampah. Saya benar-benar terenyuh saat itu, lalu langsung saya bilang terima kasih dengan seterima kasihnya. Saya berikan sekotak kue yang saya beri, masnya menerima dengan senang hati, lalu berkata pada teman-temannya “wee dapat roti weee…”

Saya akhirnya pamit pergi, kali itu saya benar-benar merasa terharu sekaligus senang sekali. Bukan masalah uang saya yang kembali, tapi keikhlasan pegawai WSS yang mau membantu saya. Saya takjub, di jaman “semua butuh uang” ini masih ada orang baik yang mau membantu mencarikan selembar uang seratus ribu dalam tumpukan sampah dan mengembalikannya pada yang punya.

Ah saya semakin terkesan dengan WSS, bukan maksud saya promosi, saya yang sedari dulu sering makan di WSS, terus mengagumi poster-poster di sana karena masih mengingatkan untuk berdoa sebelum makan dan makan menggunakan tangan kanan padahal jelas-jelas makan steak menggunhakan tangan kiri, dan saat ini saya benar-benar ditolong oleh pegawainya.

Semoga saja pegawai di WSS semuanya baik, nggak hanya di WSS Suhat Malang. Sekali lagi terima kasih buat masnya kemarin, terima kasih Waroeng Steak and Shake.

(naima.knisa)