Di Balik Frekuensi

film ini bukti, bahwa tidak pernah ada politik yang benar-benar berpihak pada bangsa kita – naima.knisa

Pertama kali melihat posternya nampang di depan lift FISIP UB saya hanya bergeming, “ah ini pasti cuma dokementer tentang media dan jurnalistik biasa”

Ternyata saya salah, ya salah besar lebih tepatnya!

Berawal dari cerita teman saya yang seorang dosen muda di FISIP, dia mendapatkan project untuk memutar film itu di Brawijaya, yang mana merupakan misi memutar film ke 100 tempat berbeda di Indonesia dalam 1 pekan oleh sang pembuat Film, Ucu Agustin, seorang Jurnalis sekaligus movie maker yang terus terang baru saya dengar namanya saat ini.

Sayang sekali saya tidak berkesempatan mendatangi langsung pemutaran film itu karena pas jam kerja, padahal dalam pemutaran itu ada bedah filmnya juga oleh AJI (Asosiasi Jurnalis Indonesia). Hmm, berawal dari cerita teman saya itu akhirnya dia mengizinkan saya untuk menonton sendiri film tersebut dengan pesan, DVD ini hanya ditonton, tidak untuk di copy file-nya dan tidak disebar luaskan.

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=mjmRuiWHUAQ[/youtube]

Dibalik Frekuensi – menceritakan perjuangan bangsa, menceritakan langkah kaki anak negeri yang menuntut haknya, menantang  sang pemimpin yang selalu bekerja dengan embel-embel “mengatasnamai bangsa”.

Namanya Luviana, seorang jurnalis MetroTV yang di PHK karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom.

Namanya Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong Sidoarjo ke Jakarta. Keduanya menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan itu guna mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi.

Dibalik Frekuensi – berkisah bahwa media bukanlah milik publik lagi, media milik mereka yang punya, yang berjiwa bisnis tapi bermental penguasa. Yang berteriak mempedulikan bangsa tapi tak pernah benar-benar mendengarkan kemauan bangsanya. Milik mereka yang bisa membeli suara rakyat kecil dengan segebok emas miliknya. Milik mereka yang perkataannya berbeda jauh dengan perbuatannya, milik mereka para politikus bangsa.

Dibalik Frekuensi – sebuah era baru, dimana media mulai dikuasai hanya oleh segelintir nama. Dimana apa yang kita baca di koran, kita tonton di TV dan kita dengarkan di Radio tidaklah lagi sepenuhnya fakta, ada framing dan agenda setting sang pemilik kuasa di dalamnya.

Ah apa iya frekuensi yang harusnya milik publik itu bisa kita percaya lagi, hmm saya tak bisa menjawabnya!

Mungkin anda bisa menjawabnya, setelah menyaksikan kisah mereka!

 

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=dqCvPj01vi0[/youtube]

 

lalu, salahkah saya berfikir bahwa politik hanyalah jubah kekayaan mengatasnamai bangsa

(naima.knisa)