Jasmine (Review)

Judul Novel                 : JASMINE, Cinta Yang Menyembuhkan Luka
Penulis                         : Riawani Elyta

Editor                           : Mastris Radiamas
Penerbit                       : Indiva
Tahun Terbit                : 2013
Jumlah Halaman          : 320 hlm

Cinta yang Menyembuhkan Luka

Cinta yang Menyembuhkan Luka

Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih. Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang putihnya nurani dan indahnya cahaya.

Rating   : 3/5 stars

Pertama lihat covernya, komentar saya langsung negatif, kok semacam novel-novel fiksi lama ya? Yang biasanya cover dihiasi bunga-bunga dan carakter seseorang. Tapi setelah melihat siapa penulisnya, saya langsung memutuskan membeli. Ini novel ketiga Elyta yang saya baca setelah PING! dan The Coffee Memory.

Saya suka kisah dalam novel ini, masih berlatar belakang cinta, tapi Elyta berhasil meramunya dalam plot yang menarik, pemeran utamanya adalah Jasmine yang terjerat dalam kehidupan yang tidak pernah dia inginkan, yaitu kawasan pelacuran. Pemeran utama lainnya adalah Dean, anak konglomerat yang menjadi leader dari jaringan Cream Crackers yang sering membuat resah bank-bank dan consumennya dengan keluhan tagihan kartu kridit yang membengkak.

Elyta menceritakan kisah mereka berdua bersama tokoh-tokoh lain yang saling berhubungan da nada dalam setiap sub babnya. Selain cyber crime, novel ini juga mengisahkan perjuanagn penderita HIV AIDS, dua topik yang berbeda tapi berhasil diramu dengan apik oleh Elyta.

Membaca novel ini membuat saya berfikir beberapa kali tentang siapa sebenarnya Jasmine dan apa hubungannya dengan Ibu Romewa yang mencari anaknya yang juga menjadi korban human trafficking, dan pembaca benar-benar diminta menyimpulkan sendiri dari cerita yang dibawakan Elyta.

Sayangnya, novel ini lebih banyak narasi dengan diksi-diksi yang berbunga-bunga (maaf kalau istilah saya agak aneh), dasarnya saya bukan orang yang menyukai kalimat bertele-tele dengan hanya menggambarkan suatu perasaan dengan majas personifikasi yang berlebihan. Dan menurut saya tulisan dalam nobel ini minim dialog. Ending yang tidak terduga, ya jelas itu bisa membuat anda yang membaca melanjutkan sendiri imajinasi tentang lanjutan cerita Jasmine. Tapi menurut saya (lagi) epilognya terlalu dibuat-dibuat-buat karena hanya ingin menceritakan siapa Jasmine sebenarnya.

 

Naima Knisa