Ke Makassar yuk! (Promo Air Asia Periode Perjalanan Februari-Agustus 2014)

Gegara twitter nih, mata saya langsung ijo ngedenger ada promo murah Air Asia buat perjalanan periode 2014.

Masa iya ke Makassar dari Surabaya cuma LIMARIBU PERAK, naik becak apa pesawat tuh? Sampai adek saya yang saya ajak responnya begini, “Mbak itu pesawatnya ada sayap sama rodanya ga? Iso terbang ga?”

wkwkwkwkw.

Tapi sungguh, beneran ga boong tulisannya di web emang segitu! Eitts…ada tapinya ternyata! Mengutip kata-kata mbak Trinity penulis buku Bast Seller Neked Traveler, “Percaya Web sama dengan Dideportasi” ya kalo diartikan berarti percaya web sama aja anda ke Makassar naik becak beneran dengan lima ribu…

Saya terlanjur ngajak dua adik saya dan pacar buat jalan2 ke Makassar tahun depan, sebenarnya sih mau pilih Kuala Lumpur atau Singapura, mengingat bikin passport lamanya minta ampun dan duitnya ga sedikit, jadilah yang di Indonesia dulu aja deh…

Pas mau booking, awalnya empat orang SBY-MAKASSAR cuma 22ribu sekian, terus next ngisi data penumpang, ini nih jebakannya! Ternyata setiap penumpang otomatin include bagasi, paling kecil bagasi itu 15kg dan terhitung 40rb. Oke, siap-siap pindahan ke Makasar nih bawa barang segitu banyak. Terus g cuma itu, ada asuransi yang harus dibayarkan sebesar 19rb…wkwkwkwk

Jadi kalau di total per anak kenanya sekitar 65rb, masih murah kan? dan setidaknya pesawat itu beneran ada roda dan sayapnya. Sayangnya saya masih galau gara2 belum dapat tiket pulangnya dari Makassar ke Surabaya, entahlah semoga tiba-tiba ada harga lima ribu lagi di websitenya AirAsia.wkwkwkwkw

Yuk monggo yang mau melancong taun depan, banyak tujuan lain yang masih available sampai tagl 14 Juli 2013 ini lho…

Eits, lagi-lagi pesan saya jangan ketipu angka murah di web, soalnya nanti akan kena tambahan lagi diproses bookingnya!

Happy Holiday…(taun depan)

 

Naima.Knisa

Sebuah Amplop dan Keikhlasan Bekerja

Minggu siang kemarin, saya kembali dari Jambuluwuk Batu setelah sehari sebelumnya menghadiri rapat kerja PPTI UB. Sampai di kantor, rasa capek karena semalam tidak tidur membuat saya enggan segera pulang kerumah. Saya putuskan untuk makan bersama teman-teman kantor yang belum juga pulang dan merasa lapar.

Sekitar pukul 2 siang saya menuju WSS (Waroeng Steak and Shake) di daerah Soekarno Hatta Malang. Sepiring Hot Plate Cordon Blue favorit saya menjadi menu makan siang saya hari itu. Mata kantuk hilang seketika dengan menu makan spesial yang sebenarnya adalah menu makan favorit pacar saya juga.

Setelah kenyang, kami semua mengeluarkan uang untuk membayar yang dikoordinir teman saya. Saya keluarkan amplop yang kemarin diberikan saat acara rapat berlangsung, tahu lah isinya apa! Teman saya menerima lalu berkata “waduh ima ini uangnya masih diamplop saja!” aku hanya tersenyum tak menghiraukan.

Lalu teman saya memberikan kembali amplop itu, saya menerimanya, kemudian melipat-lipat amplop itu dan membuangnya di meja dekat dengan tisu kotor yang baru saja saya gunakan setelah makan. Lalu kami balik lagi ke kantor, parahnya saya malah ketiduran di sofa ruang tamu sampai sore, dan baru terbangun sekitar jam 4.

Saat mau pulang saya menuju meja kerja teman saya yang juga belum pulang, berniat meminta kembalian uang makan siang kepadanya. Anehnya teman saya bilang begini “Heh, tadi kan pakai uangku dulu, uangmu kan aku kembalikan!”

Aku bingung. Lalu dia berkata lagi “tadi kan amplopnya aku kembalikan ke kamu! Tadi bayar pakai uangku dulu!”

Aku nganga, nggak percaya! Jadi amplop yang aku lipat-lipat kecil tadi masih ada uangnya. Hahahahaha.

Lalu saya telepon WSS di Suhat tempat tdai aku makan, saya konfirmasi untuk minta tolong pegawainya saya mencari amplop putih, mereka bilang tidak menemukan, lalu meminta saya menelepon lagi seperempat jam kemudian. Saya menuruti, dan saat saya telepon lagi amplop itu juga belum ditemukan.

Ah, saya pasrah. Pikir saya hanya Rp 100.000 saja kok. Kalau ditemukan mungkin rejekinya mas-mas yang kerja disana, toh saya juga nggak yakin mas-mas yang kerja disana mau ngubrek-ngubrek sampah yang pasti isinya uda nggak karuan bentuknnya. Lalu saya putuskan untuk pulang.

Sesaat setelah mengisi bensin, telepon saya berdering, dari WSS Suhat, saya mengangkat dan masnya bilang uang saya ketemu. Alhamdulillah, saya akhirnya memutuskan tidak langsung pulang, putar balik ke Suhat dan kembali ke WSS. Sebelumnya saya mampir dulu ke toko kue, membeli beberapa kue dan melanjutkan ke WSS.

Sampai disana, dan sesaat setelah saya bilang “Mas, saya Ima yang tadi telepon menanyakan amplop!” masnya langsung menyampaikannya ke temannya yang lain, lalu seorang laki-laki berperawakan kurus tidak terlalu tinggi menggunakan kaos polo warna kuning khas warna WSS menemui saya.

Tangan kanannya mengulurkan sebuah sobekan kertas basah dan selembar uang seratus ribu di dalamnya. Amplop putih itu ternyata sudah basah dan hancur oleh air, sepertinya masnya sengaja telah mencuci amplop dan uang saya. Belum sempat saya mengucap terima kasih masnya malah bilang begini “maaf ya mbak uangnya jadi basah”

Ya Allah, mas! Ngapain malah minta maaf, harusnya saya yang minta maaf karena menambah pekerjaan anda untuk mencarikan sebuah amplop di tempat sampah. Saya benar-benar terenyuh saat itu, lalu langsung saya bilang terima kasih dengan seterima kasihnya. Saya berikan sekotak kue yang saya beri, masnya menerima dengan senang hati, lalu berkata pada teman-temannya “wee dapat roti weee…”

Saya akhirnya pamit pergi, kali itu saya benar-benar merasa terharu sekaligus senang sekali. Bukan masalah uang saya yang kembali, tapi keikhlasan pegawai WSS yang mau membantu saya. Saya takjub, di jaman “semua butuh uang” ini masih ada orang baik yang mau membantu mencarikan selembar uang seratus ribu dalam tumpukan sampah dan mengembalikannya pada yang punya.

Ah saya semakin terkesan dengan WSS, bukan maksud saya promosi, saya yang sedari dulu sering makan di WSS, terus mengagumi poster-poster di sana karena masih mengingatkan untuk berdoa sebelum makan dan makan menggunakan tangan kanan padahal jelas-jelas makan steak menggunhakan tangan kiri, dan saat ini saya benar-benar ditolong oleh pegawainya.

Semoga saja pegawai di WSS semuanya baik, nggak hanya di WSS Suhat Malang. Sekali lagi terima kasih buat masnya kemarin, terima kasih Waroeng Steak and Shake.

(naima.knisa)

Sewa Stand di Pasar Minggu Malang

Setelah googling ga nemu jawaban, akhirnya saya nemu juga contact person yang menangani persewaan stand di pasar minggu malang.

Namanya bu Ratih, beliau adalah karyawan Dinas Pariwisata Malang, Kantornya yang ada di plosok ujung malang itu lho, di pusat perkantoran terpadu Buring Gedung A. lantai 3 ya! Nah menurut informasi beliau, sewa stand bisa dilakukan perhari, bulan atau kelipatannya. Untuk biaya sebulannya Rp 800.000,- bisa dikira-kira sendiri kan berapa biaya perhari atau per tahunnya.

Sayangnya untuk 2013 ini semua stand masih penuh sampai bulan Juni, jadi mungkin baru akan menerima sewa lagi mulai Juli (pas puasaan). Untuk informasi saya anjurkan langsung ke dinas pariwisata saja ya, karena jangan berharap lebih saat anda menelepon dinas pariwisata, nada telepon tersambung, tapi tidak diangkat, katanya sih rusak.

Untuk nomer telepon bu Ratih, apabila anda menginginkan bisa langsung email saya aja ya!

(naima.knisa)

Di Balik Keraton Kasunanan Surakarta

Finally, akhirnya setelah 23 tahun mengaku lahir, tinggal dan besar di kota Surakarta (atau yang dikenal dengan Solo) saya berkesempatan jalan-jalan di Keraton Kasunanan Surakarta yang terkenal itu. Dengan sedikit norak saya ijin pamer pengalaman jalan-jalan ke dalam keraton solo ya!

Ada dua pintu masuk keraton, di utara dan di selatan. Nah paling enak memang dari utara, kita akan disambut gapura besar setelah melewati Jl. Slamet Riyadi, kemudian memutar jalan searah melewati alun-alun utara yang terdapat beringin kembar ditengahnya. Nah di sisi kiri bisa dilihat ada tembok tinggi bernama Baluwarti, yang dulu berfungsi sebagai benteng keraton. Setelah melewati jalan supit urang di sisi timur, kita akan disambut gerbang utama keraton yang disebut dengan Kori Brajanala Lor, barulah kita akan melihat kemegahan bangunan keraton setelah itu.

Untuk tempat parkir, bisa langsung di depan halaman keraton, tapi sayangnya pintu dan loket masuk keraton tidak melalui pintu utama atau yang disebut dengan Kori Kamandungan. Wisatawan bisa mendapatkan tiket masuk di pintu wisata sebelah timur, biayanya untuk wisatawan domestik Rp 10.000, untuk wisatawan asing Rp 15.000 nah jika ada reporter, liputan dan bersifat komersil, kamera yang dibawa juga dikenakan biaya lho. Nah kalau mau sewa guide, ada abdi dalem yang siap menemani, tambah ongkos sekitar Rp 30.000 yaa.

Masuk ke dalam keraton untuk pertama kalinya kita akan disapa dengan silsilah raja Keraton Kasusnanan Surakarta, yang saat ini dipimpin oleh Paku Buwono XIII. Setelah itu ada maket yang menggambarkan semua wilayah di keraton, yang bisa kita lihat walapun tidak begitu jelas karena kurang terawat. Kunjungan pertawa wisatawan diarahkan ke musium yang berisi peninggalan barang-barang keraon. Seperti sejarah, alat perang, alat musik, alat masak sampai dengan seragam dan kereta kencana.

1

2

Di tengah-tengah musium ada sumur yang dulunya tempat bersemdi raja, airnya bisa diminum dan untuk cuci muka. Baru setelah itu kita memasuki wilayah keraton yang sesungguhnya. Ada peraturan unik di sini, pengunjung yang menggunakan sandal jepit harus melepanya, kalau menggunakan sepatu tertutup boleh, menurut abdi dalem yang sempat saya temui, ini merupakan bentuk penghormatan tamu kepada si pemilik rumah.

Setalah masuk halaman keraton bagian timur ini kita akan disapa oleh halaman begitu luas dengan deretan pohon sawo yang rindang, yang kata abdi dalem, setiap pohon ada penunggunya. Tanah yang kita injak ada dua jenis. Dulunya hanya berupa pasir dari laut pantai selatan saja. Tapi saat ini, tepatnya setelah letusan merapi yang terakhir, halaman ini juga dipenuhi dengan pasir merapi yang permukaannya lebih kasar.

3

Hanya ada beberapa bangsal saja yang bisa kita lihat di dalam keraton ini, seperti Sasana Sewaka yang dikelilingi patung-patung eropa, tempat ini biasanya digunakan untuk acara besar seperti jumenengan, sataupun pernikahan putra putri keraton. Disampingnya ada Sasana Handrawina yang terlihat klasik dengan gaya eropa, disini merupakan tempat seminar atau jamuan tamu kerajaan.

Dari dalam juga terlihat menara tinggi yang menghadap ke luar keraton, namanya Panggung Songgo Buwono, dulunya digunakan untuk mengintai benteng lawan, saat ini dimanfaatkan untuk bertapa raja. Sayangnya tidak semua bagian keraton boleh kita kunjungi. Ada batas-batas yang tidak boleh dilalui wisatawan, dan padahal keraton bagian barat dan selatan masih sangat luas.

6

Sedikit kecewa saya keluar keraton, dan berjalan ke pintu utama di Kori Kamandungan, disana kita disapa oleh dua patung dan dua orang abdi dalem keraton dengan pakaian prajurit. Wisatawan boleh kok berfoto bersama mereka, tapi saat berfoto salah satu dari mereka pasti akan berbisik seperti ini “mbak, mohon seiklasnya untuk mengisi kas prajurit ya!”. Hmm, nggak ada salahnya kan kita ngasih? Toh abdi dalem disana rata-rata hanya digaji sekitar Rp 30.000, – Rp 100.000, per bulan, tergantung masa kerjanya.

5

Satu lagi yang terlewatkan, di sisi barat ada musium kecil tempat memamerkan kendaraan yang digunakan raja, diantaranya adalah kereta kencana dan mobil. Untuk masuk ketempat itu kita dikenakan biaya lagi sebesar Rp 3.000,- dan menggunakan kalung samir yang diberikan oleh petugas. Saat saya tanya kenapa harus pakai samir, dia menjawab “agar selamat, mbak”.  Dan sekedar info saja, ternyata apabila kita beli tiket di tempat ini, bisa berlaku terusan lho, jadi kita hanya membayar Rp 10.000, untuk masuk musium kereta dan keraton sekaligus.

Butuh oleh-oleh? di sekitar keraton banyak sekali menyediakan oleh-oleh yang terjangkau, bisanya berupa pernik-pernik. Nah kalau terasa lapar atau haus, anda bisa menyewa becak atau delman untuk ke pintu keluar keraton sebelah selatan. Tepat di samping Kori Brajanala Kidul kita akan menemui beberapa warung makan yang enak-enak. Salah satu yang terkenal di sana adalah Es Plengeh, warung yang menjual es buah dengan harga Rp 3.000,00 saja per mangkok.

4

Keluar Kori Brojonolo, kita akan menemukan Sithinggil Kidul yang berisi pusaka keraton berupa kerbau albino yang disebut Kyai Slamet. Lalu lapangan luas membentang kembali, namanya alun-alun Kidul. Nah ditempat ini ada dua sisi musium kereta, yang konon dulu bisa jalan sendiri saat mulud tiba. Sore hari disini sangat ramai. Seperti taman hiburan rakyat, dan menjual jajanan seperti bakso bakar, sate kere, jagung rebus, cakue, dan lain sebaginya.

7

Begitu kira-kira perjalanan saya yang memakan waktu sekitar 2 jam. Saran saya kalau bepergian ke Solo gunakan pakaian yang menyerap keringat, cuaca di Solo begitu panas, dan bawa kipas juga boleh. Untuk busana masuk keraton, saya sarankan menggunakan pakaian tertutup. Dan kalau anda tidak tahan menginjak kerikil-kerikil kecil pasir dari gunung Merapi yang ada di halaman keraton, gunakan sepatu tertutup ya!

Visit Jawa Tengah, Solo The Spirit of Java 🙂

(naima. knisa)

artikel ini bisa diunduh di : Di Balik Keraton Kasunanan Surakarta

Festival Jajanan Bango

Tanggal 17 Maret 2013 kemarin dari pagi sampai malam, daerah sekitar lapangan Rampal dipenuhi banyak orang. Ada yang berbeda di hari minggu itu, yang biasanya hanya orang berolahraga, mendadak Lapangan Rampal dipenuhi banner, umbul-ubul dan tenda berwarna hijau dengan gambar burung bango.

Yap, BANGO. Brand kecap yang mengaku tertua di Indonesia karena lahir padatahun 1928 itu sedang menggelar roa show ke beberapa kota di ulang tahunnya yang ke 85 tahun ini. Berajk Festival Jajanan Bango, lapangan Rampal dirubah menjadi pujasera masakan-masakan legendaris Indonesia. Kenap harus legenda? Karena Bango ingin mecitrakan kecap asli Indonesia yang mempertahankan resep leluhur.

Festival Jajanan Bango

Festival Jajanan Bango

Ada lebih dari 50 stand makanan nusantara di sana. Baik yang berasal dari Malang maupun masakan dari luar Malang seperti Tegkleng Solo, Oseng-oseng Mercon Jogja, Rujak Cingur Surabaya dan masih banyak lagi. Di pintu masuk kita disapa dengan Joko Roro yang pakai baju adat, dan sumpah masnya ganteng (sorry, out of focus). Dan di stand-stand awal berisi penjelasan tentang bahan dan pembuatan Kecap Bango.

Di tempat ini kita juga tidak akan tersesat, karena panitia telah menyiapkan Peta berukuran raksasa dan petunjuk arah untuk mencari tahu stand yang kita inginkan. Di bagian tengah ada tenda berukuran besar tempat para tamu makan, dan di tengah-tengahnya ada chef yang terus memperagakan cara memasak masakan yang ada di sana, seru kan, selain perut kenyang nambah pengetahuan tentang masak juga!

Suasana di FJB Malang

Nah, uniknya setelah kita membeli makanan di setiap stand, kita mendapatkan kupon yang dapat ditukar dengan sampel Kecap Bango, lumayan to buat persedian di rumah? hehehe. Panitia juga menyiapkan beberapa spot tempat yang dapat digunakan untuk berfoto, dan pastinya dengan hiasan botol kecap bango berukuran raksasa.

Seru yah, semoga tahun depan Bango ke Malang lagi 🙂

Jalan-jalan di FJB Malang