Ritual Keramat Penghuni PPTI

           Pertama kali masuk ke kantor PPTI, saya dan empat teman lain yang juga termasuk pegawai baru langsung kena ospek. Ah sialan, kirain cuma kuliah aja yang ada acara beginian, ternyata kerja juga. Tapi usut punya usut setelah saya tanya ke beberapa teman yang telah bekerja, di tempat mereka tidak ada ospek.

            Sial, ternyata cuma di PPTI yang ada ospeknya, sekali lagi sial! Baru pertama kali masuk, saya, Dame, Rizal dan Mas Ari langsung dapat tugas kenalan sama semua penghuni kantor, menghapalkan namanya dan kedudukannya di PPTI. Ini adalah sebuah derita bagi seorang berpenyakit pelupa akut seperti saya.

Foto terakhir

Muka mas-mas disana semacam malu-malu tapi menggoda. Maklum lelaki di sana selama ini cuma ngeliatin Mbak Naning yang sudah dimiliki Mas Welly orang PPTI juga, Mbak Surya yang sudah punya pacar dan Mbak Vivi yang sudah beranak satu. Otomatis saya, dan terlebih teman saya, Dame yang berwajah oriental agak kecina-cinaan walapun sesungguhnya tidak ada sama sekali darah cina di dalam dirinya menjadi santapan baru.

Syukurlah mereka semua baik, lucu dan kalau boleh saya bilang gila, nggak waras bagi ukuran seorang pegawai yang tergabung di rektorat sebuah universitas ternama. Ternyata ospek nggak selesai sampai disitu, sebulan kemudian, saat kita dapat gaji pertama, ritual kedua dimulai, kita di palak.

Sadis. Harusnya kan gaji pertama buat nyenengin orang tua (cita-cita klasik setiap awal orang dapat kerja), nah ini belum-belum sudah ditodong suruh ngasi makan sekantor yang jumlahnya nggak sedikit. Alhasil kita berempatpun patungan, dan gaji pertama saya iklhaskan untuk mereka, wkwkwkw.

Oiya, ritual ini terus berlanjut lho sampai sekarang, setiap ada pegawai baru harus siap di ospek. Jadi kalau kalian yang kebetulan baca dan pengen ngelamar kerja di sini, kudu siap. Siap di ospek, siap setres, dan siap gila dan kehilangan secuil kewarasan anda disana.

Pikiran saya yang namanya kerja itu diikat oleh sejumlah peraturan ini itu yang kaku dan tegas. Nyatanya tidak untuk PPTI dan ini yang bikin saya senang. Pertama karena di sini kebanyakan pegawainya masih muda masih berstatus mahasiswa, kedua tidak ada peraturan mengikat masalah kostum ke kantor, dan yang paling seru tidak ada senioritas, semua membaur seperti keluarga.

Kami semua paling doyan sama makan, apa lagi makanan yang gratis, maklum kebanyakan juga anak kost. Tapi ada satu makanan favorit kita yang nggak gratis pun tetap kita rebutin, yaitu cilok SMA 8. Nggak kenal waktu, kalau udah ngidam langsung gitu aja cabut dari kantor dan ngeborong cilok untuk orang sekantor.

Kalau ciloknya udah datang, semua orang otomatis amnesia sama monitor dan kerjaannya sendiri-sendiri. Langsung bergerombol dan rebutan mendapatkan cilok, dan biasanya yang direpotin kalau uda begini adalah Mbak Vivi dan Mbak Surya di bagian administrasi untuk nagih siapa yang belum bayar.

Lanjut ritual-ritual anehpun bermunculan semenjak kita pindah kantor ke lantai 2 rektorat. Berawal dari keisengan divisi administrasi yang membawahi helpdesk juga dan memiliki anggota empat orang cewek dan seorang lelaki, kami berniat mengadakan arisan.

Eh nggak disangka-sangka divisi lain malah mau ikutan, bahkan Pak Arief, kepala PPTI juga ikut. Alhasil ritual kocok mengocok ini rutin kita adakan sampai sekarang. Saya pikir ini awalnya adalah ide gila, dan nggak pernah percaya laki-laki di PPTI ternyata setengah berjiwa ibu-ibu PKK.

Sekali lagi ritual berikutnya tidak jauh-jauh dari masalah makanan. Sudah saya bilang semua pegawai PPTI tuh rakus, makannya banyak dan suka ngemil. Alhasil Mbak Vivi membelikan kita sebuah kulkas di pantry, sungguh menyenangkan bukan?

Eits, orang adminsitrasi yang merangkap keuangan tuh udah punya ide lebih gila ketimbang niatan mas-mas penghuni PPTI untuk menyimpan makanan kesukaan mereka di kulkas. Kulkas diisi minuman mulai dari Milo, buavita, teh kotak, ultramilk sampai dengan Fanta kaleng. Ditambah lagi kita langganan sari roti, kadang ada momogi, donat, bakpao, wafer dan bahkan rokok semua merek.

Jangan pikir itu gratis, bayar buk! Tapi asyiknya tuh kita bisa ngutang. Hore nggak sih, ambil sepuasnya, catat nama dan belinya apa aja di kertas di atas kulkas lalu tinggal tunggu tagihan tiap sebulan sekali. Dan akhirnya kebiasaan hutang menghutang itu mendarah daging ke semua pegawai kecuali Pak Iwanto yang tagihannya kalau nggak 500 perak ya seribu, hahaha.

Siap-siap aja syok akhir bulan ditagih utang sama Mbak Surya, dan serunya setiap bulan akan ada pemenang dengan jumlah hutang terbanyak. Bahkan akhir-akhir ini sempat dibuat grafiknya. Pemenangnya tidak lain adalah Mas Gema, Mas Farid dan terkadang Mas Ratno.

Ritual terakhir adalah memandikan para pegawai yang berulang tahun dengan ramuan herbal penuh rempah-rempah memuakkan. Nggak kenal umur, nggak kenal cewek apa cowok, dan yang pasti nggak kenal malu. Siapapun yang ulang tahun harus mau dipaksa di seret keluar kantor, diikat di pohon deket parkiran dan ditonton banyak orang yang lewat.

Korbannya udah banyak, ada Mas Ratno yang saat ini sudah bernak dua, Mas Alfa yang sudah tua tapi mengaku muda, Dame, Mas Lastono, Mas Tsalatsa, Mas Gema, dan terakhir saya. Sial saya juga jadi korban siraman air kopi, sabun, tepung, telur, jus wortel dan entah apa lagi.

Saya selalu membatin, pasti setiap orang yang lewat, termasuk mahasiswa, saat kita sedang melakukan ritual itu selalu berfikir begini “ini orang norak amat sih, muka tua-tua begini masih  main siram-siraman pas ultah, mana pakai nametag brawijaya lagi”. Ah tapi kami tidak pernah peduli.

Sinting. Tapi saya menikmati setiap proses di dalamnya. Menantikan ritual itu terulang setiap harinya. Dan suatu saat saya pasti akan merindukan mereka yang ada di sana, PPTI memang bukan sekedar tempat cari duit, tapi juga sebuah keluarga.

Ada Apa di PPTI

            Sudah pernah saya katakan sebelumnya bahwa PPTI itu mirip hotel bintang lima. Semua ada, All in one istilah kecenya. Tempat ini nggak cuma kantor, tapi juga merangkap sebagai kamar tidur, warung game online, tempat ngopi gaul, tempat karaoke, nobar, restoran, dan terkadang menjadi tempat olah raga.

            Betapa enaknya tinggal di kantor. Setelah jam kerja habis, bebas menggunakan komputer, mau dari ukuran 14 inci sampai segede home teather juga ada. Mau main dota atau pertandingan bola yang entah apa namanya itu juga boleh, mau nonton film, TV monggo.

Capek, atau laper tinggal ke pantry. Oiya cerita sedikit, ada banyak keajaiban di pantry PPTI. Pertama, ada kulkas berisi minuman dan makanan yang boleh diutang, kami menyebutnya kantin kejujuran, sayangnya divide administrasi lebih sering kekurangan uang kulkas ketimbang laba, hahahaha.

Kedua, ada tersangka yang sampai saat ini nggak ngaku telah menggosongkan ceret sampai airnya kering, dan gagang ceretnya meleleh karena ditinggal main dota dan lupa kalau lagi masak air. Ketiga, kita sering sekali kehilangan sendok makan. Bahkan dua lusin yang saya beli sekitar bulan Mei lalu telah habis tanpa sisa, saya curiga teman-teman saya ada yang doyan sendok stenlistil.

Ngantuk, tinggal tidur, bisa pakai sofa di helpdesk, atau sofa ruangan Pak Arief. Ada juga kasur lipat di musola yang sempat saya ompolin pakai teh kotak dulu pas masih baru, gara-gara saya kecapekan habis nganterin tamu ke bandara Surabaya, saya ketiduran pas minum teh kotak, bangun-bangun badan basah semua.

Mau mandi, monggo ada dua kamar mandi, lengkap dengan sabun, sikat gigi, dan shampo hasil colongan dari hotel tempat kita nginep pas ada acara atau rapat, hahahaha. Mau masak enak, juga bisa! akhir-akhir ini Dame dan Bu Win, istri pak Arif setiap malam menyempatkan diri membuat nasi goreng untuk mas-mas yang emang betah di kantor sampai malam.

Bahkan saya sempat meracuni mereka dengan capcay acak adul buatan saya yang asinnya minta ampun gara-gara ketumpahan garam. Wkwkwkw, tapi herannya tetep aja habis. Biasanya acara makan begini lebih asyik diiringi musik dan karaokean di tengah ruanganan. Ditemani organ, gitar dan satu set sound system lengkap entah dari mana datangnya, saya tidak pernah paham.

Karena yang bisa main organ dan gitar cuma segelintir, dan lagunya itu-itu saja, akhirnya mereka mengandalkan youtube, jadilah bener-bener karaoke kaya di inul vista. Bak penyanyi kawakan, mereka nggak peduli suara secempreng apa kedengeran sampai lantai satu di malam hari.

Berhubung di kantor itu merupakan ruangan ber AC, mas-mas yang emang pecandu nikotin rokok itu punya ruang tersendiri di belakang, mereka menyebutnya ruang rokok,. Tempat itu biasanya buat rapat nyantai, main gaple kalau uda sore atau sekedar kempas kempus sambil ngopi.

Oiya, nyamannya lagi tuh PPTI buka 24 jam nonstop, selalu ada orangnya, tidak pernah kosong. Dan aman, ninggalin barang apa aja juga nggak bakal ilang. Kalau BB ilang disini sudah biasa, paling-paling statusnya berubah alay terus tiba-tiba BB balik lagi ke meja si pemilik.

CCTV terpasang disetiap sudut, jadi bakalan ketauan kok aktifitas sehari-hari, termasuk malam hari atau ada sesuatu yang mencurigakan. Termasuk saat kita utik-utik upil, garuk-garuk pantat atau sekedar ngebuka facebook saat jam kerja, hahahaha.

Sepertinya PPTI itu bukan kantor yang menyerupai hotel bintang lima. Lebih tepatnya mungkin PPTI itu sebenarnya adalah hotel bintang lima yang didesain mirip kantor. Ah apalah itu bentuknya, yang pasti tempat ini adalah tempat ternyaman kedua saya setelah kamar kost berukuran 3×3 dengan penjaga kost super ganteng di Mertojoyo blok N nomer sekian. Hehehe.

 

donwload : 2 Ada Apa di PPTI

My First Job

SONY DSC

Namanya PPTI. Apa tuh? Stasiun TV? Atau Radio? Kok nggak pernah denger…

Bukan, PPTI bukan nama stasiun televisi, bukan juga radio. Jangan tanya kepanjangannya karena saya juga sering lupa, dari pada salah.

Oh, lalu di kota mana perusahaan tempatmu bekerja itu? Jakarta ya?

Haduh, bukan-bukan, PPTI bukan perusahaan, juga bukan di Jakarta.

Pertanyaan menohok, langsung ke jantung hati. Karena saya harus mengakui bahwa saya lulusan strata satu jurusan ilmu komunikasi yang nyasar masuk ke kantor IT di Universitas Brawijaya, yang tidak lain adalah kampus saya sendiri. Begitulah adanya, saya mendiami tempat itu sejak masih duduk di semester tujuh, terus nggak mau cari kerja lagi setelah lulus dengan alasan belum ngerasain gaji S1. Hahahaha, licik.

Kok nggak nyambung, anak komunikasi kok kerjanya di IT, emang kamu tau masalah jaringan, aplikasi, database, internet dan kabel optik?

Ya engga sih…

Lalu jadi apa di situ? Namanya helpdesk, jujur saya juga baru tau jenis pekerjaan itu saat saya tes wawancara hari pertama. Kalau diartikan help berarti membantu, desk berarti meja, pekerjaan saya berarti membantu meja. Ah bukan itu…

Ternyata helpdesk itu perannya sama kaya customer service. Yes, itu berarti saya nggak salah-salah banget kan masuk ke kantor ini? Setidaknya pelayanan publik juga dipelajari di saat saya kuliah dulu, tapi yang berkaitan dengan IT baru kali ini.

Saat tes praktik pertama, saya ditanyai bisa ngitung rumus pakai excel? Saya geleng-geleng sambil meringis. Ngerti internet? Kalau ini saya senyum manis sekali, wong tiap hari mainannya facebook.

Terus saya disuruh mengangkat telepon. Sumpah grogi, biasanya kalau angkat telepon asal teriak, “Asalamualaikum…siapa nih?” tiba-tiba saya harus merubah intonasi dan nada bicara selembut mungkin bak mbak-mbak operator telepon seluler.

“PPTI, selamat pagi… Ada yang bisa saya bantu?” yup, itu sapaan wajib saat mengangkat telepon di kantor saya.

Entah bagaimana ceritanya, saya yang punya badan dengan tinggi pas-pasan, wajah yang nggak menjual sama sekali bisa keterima jadi front office macam begituan. Jadi, sejak Juli 2011 lalu saya mutlak beralih jadi wanita rapi dan meninggalkan kegembelan saya saat mahasiswa dulu.

Masuk ke PPTI tuh kaya masuk kandang singa, hmm bukan-bukan, lebih tepatnya sarang penyamun. Sayangnya penyamunnya manis-manis, dan saya langsung yakin bakalan betah kerja disitu. PPTI diisi sembilan puluh persen laki-laki, masih muda semua, dan banyak yang ganteng.

Rasanya ini bukan kantor, ini lebih mirip warung kopi free wifi yang berisi laki-laki pecandu rokok dan kopi. Asap di mana-mana, cangkir berkerak ampas kopi berserakan di meja, tapi suasanya tidak menyenangkan itu berubah seketika saat melihat kegantengan mereka.

PPTI dulu sumpek, pengap dan kecil, terus akhir tahun 2011 kantor dipindah ke lantai atas, dan kita dapat ruang empat kali lebih besar dari kantor yang lama, semua perabot baru dan full AC. Saking besarnya di tengah-tengah ruangan dulu sering kita buat main badminton saat pulang kerja.

Kantor yang baru punya ruang helpdesk yang nyaman, sofa empuk, kursi mirip di bar-bar gitu terus ditambah big screen yang layarnya bisa ditutul-tutul pakai jari. Ruang kerjanya luas, ada ruang server, ada musola, ada kasur lipat, ada pantry, ada kamar mandi.

Gimana nggak betah tuh? Udah berasa hotel bintang lima bukan? Bahkan sampai saat ini PPTI malah jadi kos-kosan buat teman-teman kerja saya, ada Mas Gema sang penghuni tetap, Mas Abdur, mas Alfa dan mas Farid yang menjadi member of lelaki jomblo di kantor. Ah semoga mereka segera menemukan dambaan hatinya.

Lalu apa istimewanya pekerjaan ini? Kantor PPTI ini? Tidak ada yang istimewa memang, pekerjaannya biasa-biasa saja. Tapi yang luar biasa adalah orang-orang di dalamnya. Bahkan saya merelakan menolak panggilan magang pada advertising di Jogja dan Solo untuk tetap memilih bekerja di PPTI dan memaksakan diri menjadikan pekerjaan saya sebagai bahan ujian magang.

Setelah lulus kuliah bahkan saya enggan meninggalkan tempat ini. Dulu saat masih sekripsian, emang pernah terbesit meninggalkan kantor ini. Tapi mengingat saya tidak yakin ada kantor lain yang ngebolehin anak buahnya main badminton di tengah ruang kerja, main dota sambil gaple, rebutan cilok di jam kerja, keluar masuk kantor seenak jidatnya, sendalan jepit dan pakai kaos, mana rela saya meninggalkan tempat ini.

Persetan kata orang saya salah jurusan, toh banyak juga anak jurusan pertanian, kimia, hukum atau teknik yang tiba-tiba jadi teller di bank, atau jurusan kedokteran yang tiba-tiba memilih membuka usaha hosting. Saya juga begitu kan? Belajar hal baru itu menyenangkan.

Saya jadi ingat, ada seseorang yang saya kenal di kereta saat balik dari Solo ke Malang waktu masih kuliah dulu. Laki-laki itu bertanya saya jurusan apa, saya jawab komunikasi. Lalu dia berkelekar begini:

“Wah hebat ya mbaknya, komunikasi tuh yang mempelajari tentang satelit gitu ya? Belajar tentang telekomunikasi, terus internet gitu ya? Wah saya mau dong diajarin…”

Dan waktu itu saya cuma meringis sambil mangguk-mangguk mengiyakan saja. Ternyata nggak semua orang ganteng itu otaknya encer. Ah mungkin karena itu juga saya kena karma terus nyangkut di PPTI selama dua tahun ini.

 

download : 1 My First Job

Bahagianya Pernah Bersama Kalian

September akhirnya datang juga, bulan yang ditunggu-tunggu sekaligus bulan yang berat untuk dilalui pada awalnya. Tapi hidup harus terus berjalan, mimpi masih membutuhkanku untuk menemukannya.

Dengan sangat kecewa, saya harus meninggalkan Malang, meninggalkan Brawijaya dan meninggalkan PPTI, tempat dimana sehari-hari saya tinggal. Sembah nuwun untuk semua ilmu dan pengalaman luar biasanya ya, baik masalah pekerjaan, pertemanan, kehidupan bahkan cinta. Terima kasih teman-teman.

Sekarang, saya harus meninggalkan Malang setelah 5 tahun berada di kota sejuk itu. Saya harus melanjutkan amanah untuk studi lanjut di kota orang lagi, Semarang. Hampir mirip pelafalannya dengan Malang, tapi hawanya sangat bertolak belakang. Kota ini sangat panas, tapi setidaknya dekat dengan tempat tinggal saya.

Dan saya berharap, blog ini akan tetap menjadi milik saya, hahahaha. Tidak tiba0tiba hilang begitu saja setelah saya mengundurkan diri dari Universitas Brawijaya. Karena apa? Karena saya terlanjur cinta dengan ini.

Dan izinkan saya untuk menulis perasaan bahagia saya karena pernah bersama kalian, PPTI.

 

love,

Naima Knisa

Tak Mampu Bayar SPP, Puluhan Mahasiswa Siap Jual Ginjal

MALANG, KOMPAS.com — Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menggelar aksi di depan kantor rektorat kampus setempat, Selasa (20/8/2013).

Mereka akan menjual ginjal masing-masing karena surat permohonan penundaan SPP (Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan) yang mereka ajukan ditolak.

Aksi mahasiswa dimulai dari depan gedung Kuliah Bersama dilanjutkan ke beberapa gedung fakultas dan finis di depan gedung Rektorat. Mereka membawa poster bertuliskan “Saya mahasiswa UB berniat menjual ginjal demi lanjut kuliah“.

Kepada Kompas.com, Ahmad Syaifuddin Zuhri, perwakilan mahasiswa yang bermasalah dengan SPP, menjelaskan bahwa ada puluhan mahasiswa yang siap menjual ginjalnya demi membayar SPP.

“Kita ditolak meminta surat penundaan yang ditolak. Karena sudah ada SK Rektor UB terkait pemberhentian penundaan SPP UB,” katanya.

Mahasiswa lainnya, Megawati dan Galih Putra, juga siap menjual ginjal. Menurut Galih, dia pernah diterima di program Bidik Misi. “Namun, tiba-tiba digagalkan. Tanpa ada pemberitahuan,” kata Galih, mahasiswa FISIP UB.

Galih mengaku sudah mengajukan penundaan pembayaran, tapi ditolak karena sudah ada SK Rektor UB itu. “Jika tidak melunasi SPP atau tidak membayar KRS, harus terminal dulu. Itu sudah opsi terakhir dari pihak rektorat,” katanya.

Galih dan mahasiswa lainnya sudah mengajukan surat penundaan pada Senin (19/8/2013) kemarin. Namun, jawaban pihak rektorat adalah jika tidak bisa membayar SPP mereka diminta meminjam ke bank.

“Hal itu yang menjadi kami tersakiti. Dan hal itu, malah bukan meringankan kami. Karena, bunga bank sangat besar, dari 0,3 sampai 15 persen,” katanya.

Galih mengatakan, banyak mahasiswa FISIP UB yang bernasib sama dengan dia. “Yakni penundaannya ditolak,” akunya.

Para mahasiswa menyatakan akan tetap melakukan aksi jika tidak ada jawaban atau kebijakan dari pihak rektorat. “Sementara Rektor dengan PD II FISIP, saat ini sedang ke luar negeri. Dia katanya ke Hongkong,” katanya.

Ditanya kenapa menjual ginjal, Galih dan teman-temannya mengatakan, hanya ginjal mereka yang bisa dijual demi melunasi SPP dan keperluan kuliah lainnya di UB.

“Saya rela jual ginjal demi biaya pendidikan yang mahal. UB saat ini dikenal dengan istilah ‘no money, no study‘,” tegas Galih.

Dalam tuntutannya, para mahasiswa menolak tegas SK Rektor UB yang berkaitan dengan pemberhentian penundaan SPP UB untuk menentang kapitalisasi pendidikan serta keterlibatan modal-modal asing swasta dan asing pada UB.

“Maka dengan ini, kami dari aliansi mahasiswa Fisip UB (Amfibi) akan melakukan aksi segel beberapa bank swasta yang beroperasi di lingkungan UB. Aksi ini akan dilakukan selama tiga hari, hingga tuntutan kami dipenuhi,” katanya.

sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/08/20/1351476/Tak.Mampu.Bayar.SPP.Puluhan.Mahasiswa.Siap.Jual.Ginjal