London (Review)

Penulis                 : Windry Ramadhina

Penulis                 : Windry Ramadhina

Penerbit              : Gagasmedia

Editor                    : Ayuning, Gita Romadhona

Proofreader       : Jia Effendi, Jumali Ariadinata

Penerbit              : Gagasmedia

Tahun Terbit      : 2013

Jumlah Hlm         : 330 + x

London ; Angel

London ; Angel

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.
Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
Editor.

Rating   : 3/5 stars

London adalah buku ketiga dari seri STPC-nya Gagas yang aku baca. Masih sama dengan Tokyo dan Melbourne, novel ini tetap berkisah pencarian cinta dan bersetting di London. Ceritanya hamper mirip dengan Tokyo, dimana tokoh utamanya jauh-jauh pergi dari Indonesia untuk menemui cintanya. Saya suka nama tokoh-tokoh di London, rasanya membumi banget dengan nama-nama khas Indonesia, Gilang dan Ning. Sayangnya Windry tidak menyebutkan nama panjang Ning itu apa, Ningsih kah atau Ningrum kah?

Jujur saya belum pernah membaca karya Windry sebelumnya, tapi dari review dan komentar banyak orang katanya Windry keren banget dalam menulis. Dan saya akui itu benar. Narasi dan deskripsi yang dia tulis benar-benar hidup, jadi saya bisa membayangkan bagaimana suasana penginapan Madge yang sederhanan tapi serasa rumah sendiri. Kisahnya seru, walaupun tema sahabat yang akhirnya jatuh cinta sudah terlalu meinstrim, Windry semacam ingin membuat kisahnya tidak seperti kisah cinta dalam persahabatan yang lain.

Awalnya saya mengira Windry hanya akan berfokus pada dua tokoh utama saja, Gilang dan Ning. Tapi selain dia menceritakan teman-temannya di Indonesia yang menyuruhnya mengejar cinta Ning di Londong, dia juga bercerita tentang laki-laki yang dijulukinya V di pesawat yang ke Londn untuk bertemu istrinya yang minta cerai, Madam Ellis dan sahabatnya Mister Lowesley, Gadis berambut ikal coklat keemasan yang disebutnya Goldilocks dan Ayu, wanita Indonesia yang dia temui di took buku.

Datang ke London membawa kejutan untuk Ning, malah Gilang yang terkejut karena sampai dua hari keberadaannya di London, Ning belum juga pulang dari perjalanan dinas kantornya. Dan hujan mempertemukan dirinya dengan Goldilocks, wanita misterius yang mengajaknya naik London Eye, dan pertemuan –pertemuan singkat lainnya saat hujan turun dan gadis itu akan pergi saat hujan reda.

Setiap bab di novel ini memiliki alur yang seru dan memberi tanda tanya dalam setiap akhir babnya, membuat saya ingin terus membaca dan mengetahui endingnya. Tentang kisah V kembali bersama istrinya, cinta Madam Ellis dan Mister Lowesley, Ning yang diam-diam menyukai seorang seniman asal London yang kalau saya logikakan disatukan oleh payung merah Goldilocks yang sengaja dia tinggalkan untuk Gilang, dan Gilang meminjamkannya pada mereka. Goldilocks adalah gadis cantik yang penuh misterius, dan Gilang begitu penasaran dengannya.

Tapi, ada yang aneh di novel ini. Tentang Gilang yang sering menyebut orang dengan istilah-istilah yang dibuatnya sendiri, ada kalanya memang Windry mendeskripsikan Gilang yang tidak tahu namanya, tapi ada juga yang Gilang memberi julukan ke orang tersebut karena lupa namanya, tapi masa iya nama mantan kekasihnya dia sampai lupa? Hahaha

Dan tentang ending, sangat tidak terduga yang pasti. Tapi, lagi-lagi saya merasa terlalu dipaksakan dengan dengan hanya memberikan porsi cerita untuk Ayu lebih sedikit dari yang lainnya. Overall, ini bacaan enak kok, dan saya semakin penasaran sama novel Windry yang judulnya Orange, yang di Gramedia-pun sudah tidak ada.

 

Naima Knisa.