Review 12 Menit

Judul Novel                 : 12 Menit
Penulis                         : Oka Aurora

Penggagas Cerita          : Regina Septati

Penyunting                   : @shinta_read dan @me_dorry
Penerbit                       : Noura Books
Tahun Terbit                : 2013
Jumlah Halaman          : 346 + xiv hlm

12 Menit - Untuk Selamanya

12 Menit – Untuk Selamanya

Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segala-galanya. Namun, ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia.

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. Tetapi, luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. Namun, dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara. Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. Meskipun orang lain menganggap itu mustahil.

Mereka berlatih ribuan jam hanya demi 12 menit penentuan. Mereka bertedad membuktikan pada dunia. Bahwa mimpi harus kau percayai agar terwujud. Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka akan menyerukan, Vincero!

 

Rating   : 5/5 stars

Membaca buku ini semacam pergi ke 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya sempat merasakan apa yang dirasakan Elaine, Tara dan Lahang saat bermain Marching Band. Dimarahin pelatih, berusahaa tetap tegak saat membopong snare drum dan berbaris siang bolong demi sebuah lomba drumband tingkat TK se-Solo raya. Ya, TK! Taman Kanak-kanak. Tapi tentunya saat itu tidak seberat apa yang ada di cerita buku ini.

Ah, kok malah ngelantur dan curhat sih!

Saya tahu buku ini sejak tahun lalu, tapi baru beli awal tahun 2014 ini. Tema yang diangkat emang beda, rasanya saya baru tahu ada buku yang bertema Marching Band ya baru ini. Dan tentunya kisah di dalamnya diambil dari kisah nyata lho, walau ada beberapa yang di fiktifkan, salah satunya adalah Rene. Dalam dunia nyata, Rene sang pelatih sebenarnya adalah laki-laki, tapi menurut saya, cerita ini lebih hidup dengan Rene perempuan.

Oka menceritakan kisah Rene, Lahang, Elaine dan Tara dengan gamblang, mengalir dan lugas. Pada awalnya kalimat-kalimat terasa kaku saat di baca, berbeda dengan novel-novel romance yang sering saya baca. Tapi kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, menjelaskan kronologi, dan mengisahkan cerita mereka dengan penuh penjiwaan. Ya mungkin Oka benar-benar tahu cara menuliskan kalimat yang membuat pembacanya menahan air mata karena terharu.

12 Menit mengisahkan tentang Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang belum pernah menang di GPMB (Grand Prixe Marching Band). Rene, sang pelatih jebolan Amerika berkeyakinan akan membawa 120 anggotanya memenangkan GPMB. Bersama pelatih-pelatih lainnya, dia melatih tim inti siang dan malam secara efektif untuk mengejar kemenangan di Jakarta selama 12 menit mereka tampil.

Masalah Rene meyakinkan dan memupuk kepercayaan anak didiknya untuk berjiwa pemenang adalah sebuah tantangan yang ditawarkan dalam kisah di novel ini. Anggota intinya bermasalah, Tara yang telah 1 tahun di cadet band akhirnya digiring masuk ke tim inti tanpa perlakuan istimewa walaupun Rene tahu, gadis itu tinggal memiliki pendengaran 10% saja dan memiliki pengalaman masa lalu yang kelam.

Selanjutnya Elaine, anak asal Jakarta berketurunan Jepang itu mendaftarkan diri di Marching Band Bontang Pupuk Kaltim dan langsung masuk ke dalam tim inti, bahkan di bulan-bulan terakhir sebelum ke Jakarta, dia ditunjuk menjadi field commander. Sayangnya kecintaan itu ditentang keras oleh ayahnya.

Lahang, anak tetua suku Dayak juga memiliki masalahnya sendiri. Rumahnya yang ada di pesisir pantai tidak membuatnya malas untuk berlatih setiap hari ke stadion yang jaraknya sangat jauh. Tapi kondisi fisik ayahnya yang semakin memburuk membuatnya sering absen dan terlambat latian. Tapi dia benar-benar ingin membuktikan kepada ayahnya kalau dia bisa menjadi yang terbaik.

12 Menit begitu membumi, menjelaskan kota Bontang dari berbagai sisi. Tapi bagian yang paling saya suka adalah Oka menjelaskan makna Ketuhanan dengan gamblang, jelas dan tanpa condong kesalah satu keyakinan atau agama saja. Oka juga menjelaskan istilah-istilah Marching Band dengan jelas, walaupun saya tetap saja gagal mengingatnya. Walapun endingnya sudah bisa ditebak, tapi novel ini menang di prosesnya, karena nilai termahal dari bbuku ini memang kisah perjalanan mereka menuju kemenangan.

Oiya, sebenarnya buku ini adalah adaptasi dari skenario film 12 Menit Untuk Selamanya. Dan kerennya buku ini lebih dulu terbit dari filmnya yang baru ditayangkan Januari 2014 lalu. Ah, sayangnya saya terlewatkan menonton film ini.

 

Naima Knisa

London (Review)

Penulis                 : Windry Ramadhina

Penulis                 : Windry Ramadhina

Penerbit              : Gagasmedia

Editor                    : Ayuning, Gita Romadhona

Proofreader       : Jia Effendi, Jumali Ariadinata

Penerbit              : Gagasmedia

Tahun Terbit      : 2013

Jumlah Hlm         : 330 + x

London ; Angel

London ; Angel

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.
Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
Editor.

Rating   : 3/5 stars

London adalah buku ketiga dari seri STPC-nya Gagas yang aku baca. Masih sama dengan Tokyo dan Melbourne, novel ini tetap berkisah pencarian cinta dan bersetting di London. Ceritanya hamper mirip dengan Tokyo, dimana tokoh utamanya jauh-jauh pergi dari Indonesia untuk menemui cintanya. Saya suka nama tokoh-tokoh di London, rasanya membumi banget dengan nama-nama khas Indonesia, Gilang dan Ning. Sayangnya Windry tidak menyebutkan nama panjang Ning itu apa, Ningsih kah atau Ningrum kah?

Jujur saya belum pernah membaca karya Windry sebelumnya, tapi dari review dan komentar banyak orang katanya Windry keren banget dalam menulis. Dan saya akui itu benar. Narasi dan deskripsi yang dia tulis benar-benar hidup, jadi saya bisa membayangkan bagaimana suasana penginapan Madge yang sederhanan tapi serasa rumah sendiri. Kisahnya seru, walaupun tema sahabat yang akhirnya jatuh cinta sudah terlalu meinstrim, Windry semacam ingin membuat kisahnya tidak seperti kisah cinta dalam persahabatan yang lain.

Awalnya saya mengira Windry hanya akan berfokus pada dua tokoh utama saja, Gilang dan Ning. Tapi selain dia menceritakan teman-temannya di Indonesia yang menyuruhnya mengejar cinta Ning di Londong, dia juga bercerita tentang laki-laki yang dijulukinya V di pesawat yang ke Londn untuk bertemu istrinya yang minta cerai, Madam Ellis dan sahabatnya Mister Lowesley, Gadis berambut ikal coklat keemasan yang disebutnya Goldilocks dan Ayu, wanita Indonesia yang dia temui di took buku.

Datang ke London membawa kejutan untuk Ning, malah Gilang yang terkejut karena sampai dua hari keberadaannya di London, Ning belum juga pulang dari perjalanan dinas kantornya. Dan hujan mempertemukan dirinya dengan Goldilocks, wanita misterius yang mengajaknya naik London Eye, dan pertemuan –pertemuan singkat lainnya saat hujan turun dan gadis itu akan pergi saat hujan reda.

Setiap bab di novel ini memiliki alur yang seru dan memberi tanda tanya dalam setiap akhir babnya, membuat saya ingin terus membaca dan mengetahui endingnya. Tentang kisah V kembali bersama istrinya, cinta Madam Ellis dan Mister Lowesley, Ning yang diam-diam menyukai seorang seniman asal London yang kalau saya logikakan disatukan oleh payung merah Goldilocks yang sengaja dia tinggalkan untuk Gilang, dan Gilang meminjamkannya pada mereka. Goldilocks adalah gadis cantik yang penuh misterius, dan Gilang begitu penasaran dengannya.

Tapi, ada yang aneh di novel ini. Tentang Gilang yang sering menyebut orang dengan istilah-istilah yang dibuatnya sendiri, ada kalanya memang Windry mendeskripsikan Gilang yang tidak tahu namanya, tapi ada juga yang Gilang memberi julukan ke orang tersebut karena lupa namanya, tapi masa iya nama mantan kekasihnya dia sampai lupa? Hahaha

Dan tentang ending, sangat tidak terduga yang pasti. Tapi, lagi-lagi saya merasa terlalu dipaksakan dengan dengan hanya memberikan porsi cerita untuk Ayu lebih sedikit dari yang lainnya. Overall, ini bacaan enak kok, dan saya semakin penasaran sama novel Windry yang judulnya Orange, yang di Gramedia-pun sudah tidak ada.

 

Naima Knisa.

Jasmine (Review)

Judul Novel                 : JASMINE, Cinta Yang Menyembuhkan Luka
Penulis                         : Riawani Elyta

Editor                           : Mastris Radiamas
Penerbit                       : Indiva
Tahun Terbit                : 2013
Jumlah Halaman          : 320 hlm

Cinta yang Menyembuhkan Luka

Cinta yang Menyembuhkan Luka

Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih. Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang putihnya nurani dan indahnya cahaya.

Rating   : 3/5 stars

Pertama lihat covernya, komentar saya langsung negatif, kok semacam novel-novel fiksi lama ya? Yang biasanya cover dihiasi bunga-bunga dan carakter seseorang. Tapi setelah melihat siapa penulisnya, saya langsung memutuskan membeli. Ini novel ketiga Elyta yang saya baca setelah PING! dan The Coffee Memory.

Saya suka kisah dalam novel ini, masih berlatar belakang cinta, tapi Elyta berhasil meramunya dalam plot yang menarik, pemeran utamanya adalah Jasmine yang terjerat dalam kehidupan yang tidak pernah dia inginkan, yaitu kawasan pelacuran. Pemeran utama lainnya adalah Dean, anak konglomerat yang menjadi leader dari jaringan Cream Crackers yang sering membuat resah bank-bank dan consumennya dengan keluhan tagihan kartu kridit yang membengkak.

Elyta menceritakan kisah mereka berdua bersama tokoh-tokoh lain yang saling berhubungan da nada dalam setiap sub babnya. Selain cyber crime, novel ini juga mengisahkan perjuanagn penderita HIV AIDS, dua topik yang berbeda tapi berhasil diramu dengan apik oleh Elyta.

Membaca novel ini membuat saya berfikir beberapa kali tentang siapa sebenarnya Jasmine dan apa hubungannya dengan Ibu Romewa yang mencari anaknya yang juga menjadi korban human trafficking, dan pembaca benar-benar diminta menyimpulkan sendiri dari cerita yang dibawakan Elyta.

Sayangnya, novel ini lebih banyak narasi dengan diksi-diksi yang berbunga-bunga (maaf kalau istilah saya agak aneh), dasarnya saya bukan orang yang menyukai kalimat bertele-tele dengan hanya menggambarkan suatu perasaan dengan majas personifikasi yang berlebihan. Dan menurut saya tulisan dalam nobel ini minim dialog. Ending yang tidak terduga, ya jelas itu bisa membuat anda yang membaca melanjutkan sendiri imajinasi tentang lanjutan cerita Jasmine. Tapi menurut saya (lagi) epilognya terlalu dibuat-dibuat-buat karena hanya ingin menceritakan siapa Jasmine sebenarnya.

 

Naima Knisa