Kemana Perginya 100.5 VB One FM milik Brawijaya?

Saat ditanya, Universitas Brawijaya punya radio nggak?
Coba kita tanya alumni Brawijaya dulu, sekitar tahun 2005-2006, mungkin dari beberapa alumni akan berkata VB One FM (Voice of Brawijaya One)  dong...
Lalu sedetik kemudian mereka akan kecewa karena tidak ada lagi gelombang 100.5 FM mengudara lagi..
Lalu kemana perginya radio yang berjaya pada masa itu?

Radio VB One milik Brawijaya saat itu (sekitar tahun 2005) bertempat di lanati dua perpustakaan UB.
Radio komunitas ini milik Universitas Brawijaya dengan dibantu sponsor dan penyiarnya mahasiswa sendiri.
Jarak dengarnya sungguh fantastik karena mencapai Pakis dan Batu.
VB One menjadi radio idola se Malang raya pada waktu itu.

Sekarang?
Sayangnya saat ini tak ada lagi VB One...
Menurut alumni VB One yang sempat saya wawancarai, saat itu keberadaan studio yang terletak di perpustakaan pusat dirasa mengganggu ketenangan perpustakaan,
dan entah bagaimana ceritanya akhirnya radio itu dibubarkan pada tahun 2006 sekitar bulan september dan peralatannya di hibahkan ke FISIP (kala itu masih bernama PIS/ Program Ilmu Sosial) untuk jurusan Komunikasi.
Sayangnya kala itu, bersamaan dengan dibukanya fakultas Baru FISIP radio belum digunakan dimaksimalkan secara maksimal.
Beberapa dosen Ilmu Komunnikasi akhirnya menggunakan studio itu untuk keperluan praktikum dan mahasiswa komunikasi angkatan pertama memiliki inisiatif untuk memberi nama Radio UB FM dengan gelombang baru di 100.9 Mhz.

Dan akhirnya saya mengenal Radio 100.9 UB FM sebagai pengganti VB One di Brawijaya pada saat masuk kuliah pertama, tahun 2008.
Sayangnya belum ada kepedulian dari pihak fakultas dan Rektorat untuk mengembangkan radio itu.
Sampai suatu hari saya mendengar Rektorat meresmkan Oryza FM yang ada di Fakultas Pertanian sebagai radio kampus Brawijaya.

Surat Untuk Patih Gajah Mada

Adaptasi dari “Patih Gajah Mada

Oleh : Naima K. Nisa

 

Teruntuk, laki-laki berperut buncit dikerajaan kecilnya.

 

Ingatkah kamu saat kau memelukku erat 4 tahun lalu di depan rumah baru itu? Rumah baru yang akan aku tempati selama belajar di sini bersama orang-orang baru yang sama sekali tidak aku kenal. Rasanya keberadaanmu saat itu begitu menenangkan, sampai akhirnya kamu harus mengecup pipiku dan meninggalkanku sendiri di Malang. Melihatmu melambaikan tangan dan kembali ke Solo membuatku menahan tangis, menahan rindu yang akan selalu ada di hati mengingat tidak lagi ada sapaan selamat pagi darimu.

Kamu jauh, kamu membiarkanku sendiri dengan kehidupan baruku disini, melepaskan segala rasa percaya padaku. Tapi aku tahu dalam setiap sujudmu, ada doa tulus terselip untukku. Sesekali aku menyempatkan pulang ke kerajaan kecilmu. Tapi bukan kamu yang menjemputku. Kutemukan kau berbaring di kamar, mengulas senyum dan menyapaku. Hari itu kau sakit, tapi kau memaksakan diri menerima banyak tamu, menyapa mereka satu persatu dan bergabung dengan mereka.

Wajahmu pucat, tapi senyummu tidak pernah padam. Rasanya aku ingin memakimu, memarahimu dan menyuruhmu kembali ke kamar, kembali istirahat. Tapi aku hanya bisa mengingatkanmu untuk tidak makan sembarangan dan minum obat. Seperti perkiraanku, kau kembali terjatuh dan kembali berteman dengan tempat tidur. Aku tahu kamu kuat, tapi aku mohon jangan memaksakan diri jika kau sakit lagi.

Masih ingat kah ketika kamu berbaring di lantai tengah malam? Rasanya aku malu dan tidak tahu terima kasih ketika aku bertanya kenapa tidak tidur dikamar dan kau menjawab menungguku pulang. Ketika itu kamu tahu aku hanya pergi main dengan teman-teman, dan kau menungguku, rasanya berdosa sekali ketika aku hanya menjawab “ooh” tanpa mengucapkan terima kasih padamu.

Saat ibumu sakit, dan terpaksa aku harus meninggalkan kegiatan di Malang dan kembali ke Solo, kau tak pernah berbincang sedikitpun mengenai keadaan beliau yang semakin kritis. Sampai akhirnya aku mendapatkan kabar di perjalanan bahwa beliau telah meninggalkan kita semua. Inalilahiwainailaihirojiun, Tuhan berkehendak lain. Pagi harinya kutemui kau dengan baju koko dan peci hitam tanpa raut wajah sedih. Walaupun aku tahu sebenarnya kau benar-benar merasa kehilangannya.

Kau menggandengku, melihat jenazahnya dan air mataku tidak lagi bisa dibendung, beliau begitu ku sayangi seperti aku menyayangimu, banyak kenangan bersama beliau, dan banyak harapan dari beliau yang belum bisa kupenuhi. Maafkan aku telah menangis dihadapannya, bukan malah menepuk pundakmu untuk menguatkanmu. Sore harinya setelah acara pemakaman dan tamu pulang, kau mendekatiku, mengatakan sesuatu yang kembali membuatku menangis.

“Aku belum bisa sepenuhnya membahagiakan ibuku, tapi beliau sudah meninggal, melihat tempat ini kosong membuatku tersadar kalau aku sudah tidak punya orang tua lagi” katamu dengan nada tegar, walaupun aku tahu ada air mata di sudut matamu.

Aku mencoba menyembunyikan tangisku, menggenggam tangannya dan mengajaknya menunaikan solat magrib. Dalam doaku, semoga kedua orang tuamu diberi tempat yang nyaman di sisi-Nya. Hidup akan terus berjalan, dan kami berdua berjanji akan tetap mewujudkan segala keinginan almarhumah. Ketegaran dan semangatmu akan selalu menjadi cambuk buatku untuk meraih prestasi seperti yang kau dan ibumu harapkan.

Lebaran kemarin, saat kau begitu heran melihatku pulang dan kau bilang aku bertambah gendut kemudian menganjurkan untuk sering-sering olah raga, makan yang benar dan diet. Kita sering membahas dan bahkan melempar ejekan tentang berat badan. Apakah kau tidak melihat kalau kamu lebih gendutan dari aku? Hanya bedanya kamu sudah beristri dan aku belum laku. Sudah ya, kita jangan mempermasalahkan berat badan lagi.

Kamu itu laki-laki paling keren yang pernah aku kenal. Kamu memang tidak terlalu gagah, perutmu buncit, pipimu tembam dan kaca matamu tidak mencerminkan sama sekali patih kerajaan. Tapi kau sangat bangga dengan julukan itu. Beribu ucap terima kasih rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikanmu, dan pengertianmu untuk membebaskan diriku terbang kemanapun yang aku mau. Pengorbananmu begitu besar buatku, buat anak ingusan yang kau ajari mandiri di kota orang.

Terima kasih Patih Gajah Mada, terima kasih untuk senyum dan candamu yang selalu kurindukan. Terima kasih untuk kepercayaanmu yang sepenuhnya kau berikan padaku, prestasi yang ada di diriku sekarang itu juga dari hasil jerih payahmu. Suatu saat nanti, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu, aku janji. Dia Patih Gajah Mada, laki-laki hebat, bijaksana dan lucu.

 

Dari Anakmu yang paling bawel dan nakal.